Karangan fakta merupakan sebuah karangan yang tulisannya menerangkan
sesuatu yang benar-benar terjadi. Fakta seringkali di yakini oleh banyak
orang sebagai hal yang sebenarnya, baik karena mereka telah mengalami
dari kenyataan kehidupan maupun pengalaman orang lain yang tak
diragukan. Pemahaman tentang karangan yang diawali dengan fakta dan
berakhir dengan fakta baru dapat berupa karangan yang berbentuk
eksposisi, deskripsi, narasi, argumentasi dan lain-lain.
Karangan yang berasal dari fakta maksudnya adalah jika seorang
menulis sebuah karya tulis berupa karangan, pasti terdapat beberapa
fakta didalam karangan tersebut, dengan demikian dikatakan bahwa
“karangan berasal dari fakta”. Kemudian pada pernyataan berikutnya
adalah “berakhir dengan fakta baru” maksudnya adalah jika seorang
menulis sebuah karangan nantinya akan membuat fakta baru, karena isi
tulisan tersebut akan di bahas secara luas dan melebar hingga tulisan
tersebut dapat menciptakan fakta baru.
Berikut adalah contoh tulisan yang berawal dari fakta dan berakhir dengan fakta baru:
Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB)
Yuddy Chrisnandi menegaskan bahwa revolusi mental tidak hanya sekadar
slogan pasangan Jokowi-JK saat kampanye, melainkan benar-benar
dilakukan. Dia memberikan contoh revolusi mental yang dilakukan pegawai negeri sipil (PNS) di era Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
"Konkretnya,
kalau di aparatur negara misalnya dulu yang namanya laporan harta
kekayaan hanya pada pejabat tinggi eselon I dan eselon II, di era Jokowi
seluruh aparatur negara wajib melaporkan. Sebelumnya belum ada," kata
Yuddy di Universitas Nasional, Jakarta, Sabtu (25/4/2015).
Politisi
Hanura ini mengatakan, larangan PNS melaksanakan rapat di hotel mewah
juga salah satu bentuk nyata revolusi mental. Selain itu, PNS saat ini
juga dibatasi dalam membuat pesta mewah.
"Dulu pejabat bikin
pesta pejabat di tempat mewah, pejabat harus mau merakyat, resepsi
pernikahan anaknya tidak boleh di tempat mewah, dibatasi undangan hanya
400," tutur Yuddy.
Urusan naik pesawat juga sekarang lebih ketat.
Dia mengatakan kementeriannya sudah melarang PNS naik di kelas bisnis.
Kelas bisnis jadi pilihan terakhir bila kelas ekonomi sudah habis.
"Jadi
itu mengubah paradigma perilaku agar mereka tidak berperilaku boros
lagi dan responsif pada kebutuhan masyarakat," ujar Yuddy.
Dia mengatakan, pemerintahan Jokowi selalu menekankan setiap tindakan harus mengingat kepentingan publik.
"Pemerintahan
Jokowi diarahkan untuk mengubah moral dan karakter aparatur negaranya
baik sipil dan militer. Kami pastikan pemerintah sungguh-sungguh untuk
bertindak sehingga berorientasi pada kepentingan publik," tandas Yuddy.Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB)
Yuddy Chrisnandi menegaskan bahwa revolusi mental tidak hanya sekadar
slogan pasangan Jokowi-JK saat kampanye, melainkan benar-benar
dilakukan. Dia memberikan contoh revolusi mental yang dilakukan pegawai negeri sipil (PNS) di era Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
"Konkretnya,
kalau di aparatur negara misalnya dulu yang namanya laporan harta
kekayaan hanya pada pejabat tinggi eselon I dan eselon II, di era Jokowi
seluruh aparatur negara wajib melaporkan. Sebelumnya belum ada," kata
Yuddy di Universitas Nasional, Jakarta, Sabtu (25/4/2015).
Politisi
Hanura ini mengatakan, larangan PNS melaksanakan rapat di hotel mewah
juga salah satu bentuk nyata revolusi mental. Selain itu, PNS saat ini
juga dibatasi dalam membuat pesta mewah.
"Dulu pejabat bikin
pesta pejabat di tempat mewah, pejabat harus mau merakyat, resepsi
pernikahan anaknya tidak boleh di tempat mewah, dibatasi undangan hanya
400," tutur Yuddy.
Urusan naik pesawat juga sekarang lebih ketat.
Dia mengatakan kementeriannya sudah melarang PNS naik di kelas bisnis.
Kelas bisnis jadi pilihan terakhir bila kelas ekonomi sudah habis.
"Jadi
itu mengubah paradigma perilaku agar mereka tidak berperilaku boros
lagi dan responsif pada kebutuhan masyarakat," ujar Yuddy.
Dia mengatakan, pemerintahan Jokowi selalu menekankan setiap tindakan harus mengingat kepentingan publik.
"Pemerintahan
Jokowi diarahkan untuk mengubah moral dan karakter aparatur negaranya
baik sipil dan militer. Kami pastikan pemerintah sungguh-sungguh untuk
bertindak sehingga berorientasi pada kepentingan publik," tandas Yuddy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar